Mengenal Martavan dari Kalimantan

0
248

Pernah dengar nama martavan? Benda ini telah lama dikenal oleh masyarakat, tepatnya sejak abad ke-8 dan termasuk benda yang disukai oleh warga Kalimantan. Benda yang termasuk dalam kategori stoneware ini tidak hanya digunakan untuk keperluan upacara atau ritual adatpada zaman dahulu, tetapi juga sebagai barang dekorasi rumah.

Martavan yang muncul sejak masa Dinasti Tang di Cina ini (618 M hingga 908 M) masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Di tempat asalnya, martavan difungsikan sebagai wadah atau bejana yang digunakan oleh para pedagang untuk membawa barang dagangan mereka, seperti kecap atau minyak.

Mengenal Martavan dari Kalimantan

Martavan dibuat melalui proses pembakaran antara 1.200 derajat Celcius hingga 1.350 derajat Celcius. Martavan memiliki ukuran yang besar dengan beragam warna dan motif. Benda ini juga memiliki “anatomi” tersendiri yang terdiri dari bagian mulut, bibir, leher, bahu, kuping, badan, dan dasar tempayan.

Martavan memiliki pola-pola terentu dengan makna yang khusus. Beberapa unsur yang mendominasi di antaranya, naga atau topeng. “Masyarakat Kalimantan, terutama suku Dayak lebih menyukai martavan. Motif tribal art dengan ragam warna yang apik serta bentuknya yang besar dan elegan diduga menjadi daya tarik tempayan untuk dimiliki oleh masyarakat Kalimantan kala itu,” ujar Boedi Mranata, Ketua Umum Himpunan Keramik Indonesia (HKI) yang juga kolektor benda seni.

Mengenal Martavan dari Kalimantan

Pengaruh kegemaran tersebut pun masih terasa hingga sekarang. Di daerah Palangkaraya, misalnya bisa dilihat pada sebuah tugu yang bagian bawahnya berbentuk martavan lengkap dengan ukiran naga. Martavan juga merupakan ornamen interior yang “wajib” dipajang di rumah tradisional Dayak. Bentuknya pun diadopsi oleh masyarakat Kalimantan dalam membuat tempayan baru saat ini.

Mengenal Martavan dari Kalimantan

Seiring dengan berkembangnya ekspor martavan saat itu, banyak peninggalan martavan yang ditemukan di wilayah Indonesia. Meski begitu, bukan berarti keberadaan martavan aman. Karena itu, sejalan dengan misi penyelamatan warisan budaya dan nilai sejarah, Boedi Mranata dan Handojo Susanto membuat sebuah buku, Ancient Martavans, A Great Forgotten Heritage. Melalui buku ini, mereka ingin menginformasikan kepada masyarakat Indonesia bahwa ada warisan benda seni yang bernilai sejarah tinggi yang harus dillindungi.

Mengenal Martavan dari Kalimantan

“Sebuah bangsa akan terus eksis jika masyarakatnya masih terikat dan berpegang pada budaya dasar bangsanya. Kalau budaya sudah dilupakan maka orientasi atau jati diri sebuah bangsa tidak akan jelas,” jelas Boedi.

Foto: istimewa

Artikel ini pernah ditulis di Majalah Griya Asri Edisi Agustus 2013, “Sekeping Kisah Martavan dari Kalimantan” oleh Adhitya P. Pratama.

Original Article

Apakah anda seorang pengusaha property, developer, enterpreneur, ataupun seseorang yang ingin mempresentasikan bangunannya melalui sentuhan gambar untuk media promosinya? Kini hadir ODIESIGN video animasi properti, yang mengkhususkan pembuatan video animasi untuk para pengusaha properti (DEVELOPER). >> Info Lebih Lanjut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here