Produksi Sepatu Boots dari Perca Denim

0
309

Produksi Sepatu Boots dari Perca Denim – Kreativitas mengubah tumpukan limbah menjadi suatu karya yang dapat menghasilkan uang merupakan hal yang luar biasa. Inilah yang dilakukan Hifdhiy saat melihat sisa-sia jahitan jeans yang sebelumnya terbuang percuma. Dengan imajinasi kreatif dibantu tangan terampil ahli jahit, limbah denim (kain yang digunakan untuk membuat Jeans) diubah menjadi sepatu gaul ala anak muda merek Qiat Footmate. Seperti apa prospek usahana?

Hifdhiy tertarik memilih usaha sepatu karena peluang usaha di dunia fashion masih terbuka lebar. “Awalnya sih iseng bikin sepatu buat diri sendiri,” ungkapnya. Hifdhiy terinspirasi dari penggunaan material bekas untuk membuat sepatu. Seperti celana jeans, karet ban bekas, dan bahan-bahan daur ulang lain yang bisa digunakan untuk membuat sepatu.

Modal untuk memulai usaha di tahun 2009 ini diperoleh dari fasilitas KTA kartu kredit BNI milih Hifdhiy sebesar Rp 30 juta untuk membeli peralatan, bahan baku, packaging, promosi, dan mengikuti event pameran. “Untuk mengajukan KTA saya dipersyaratkan punya cashflow/ rekening koran dan yang terpenting kita cukup sering bertransaksi di bank apa saja dengan besar pinjaman berkisar antara Rp 15-50 juta,” paparnya. Pria yang pernah bekerja di bidang advertising dan berwira usaha di beberapa bidang ini mengakui kalau ia tidak memiliki keterampilan khusus di bidang ini. “Seiring berjalannya usaha, pengetahuan membuat sepatu diperoleh dari para karyawan saya sendiri dan dari buku atau internet,” ungkap Hifdhiy.

Prospek usaha sepatu berbahan limbah ini menurut Hifdhiy sangat bagus, hanya proyeksi atau peta usahanya saja yang harus diperhatikan. Untuk persaingan usaha sendiri terdapat pesaing sejenis misal MKS Shoes, Flameon, Kulkith, dan lainnya. Cara menghadapinya dengan melakukan diferenisiasi dan mempertahankan keunikan-keunikan dalam membuat sepatu.

Produk Qiat antara lain boots, shie sandal, walking wedges (sepatu wanita), casual shoes dan slip-on dengan harga berkisar antara 200-500 ribu/pasang. Produk yang paling banyak diminati berupa sepatu boots berbahan limbah denim, selain itu ada pula sepatu yang menggunakan bahan kanvas untuk sepatu wanita.

Meskipun berasal dari limbah atau sisa potongan kain denim dari hasilkonveksi produk jeans, namun limbah denim itu tidak langsung dibuat menjadi sepatu. Namun diproses terlebih dahulu, misal di-washing­ terlebih (warnanya dibuat memudar keputihan dengan pencucian denim dalam suhu kurang lebih 50 oC).

Produksi Sepatu Boots dari Perca Denimmate

Saat ini sepatu kreasi Qiat yang banyak diminati adalah model boots dengan menggunakan bahan denim yang di-washing­, dengan penguatan kesan worn atau distressed(usang) pada bahan-bahan tekstil, dan menggunakan sol-sol TPU (Sol dari karet) yang nyaman digunakan untuk jangka panjang. Tren sepatu boots ini tergantung dari tren global fashion dengan model terbaru dari produk Qiat adalah Boots Denim Washed. Pada sepatu model terbarunya ini Hifdhiy menggunakan sol berbahan karet dengan berbagai pilihan warna misalnya warna pink, jelly transparan, ungu, sol berbahan karet ini memiliki keunggulan sifat yang tahan lama, anti-slip, tahan terhadap perubahan cuaca dan bahan kimia tertentu, serta sifat bahan yang ringan sehingga nyaman di kaki.

Menurut Hifdhiy, Qiat memiliki ciri khas menggunakan bahan sepatu berbahan denim yang telah di-washing­, tampak fashionable) dan memiliki insole (sol dalam) berbagai warna. Kelebihan lainnya terletak pada jahitan dan lem yang kuat merek FOX. “Kami juga memberikan garansi, dan jaminan produk karena dibuat dengan tangan (Handmade) yang dijaga kualiasnya,” ujar Hifdhiy.

Demi menjaga orisinalitas sepatu, Hifdhiy membuat desain sepatunya sendiri tiap tiga bulan sekali (season) mengeluarkan model baru sebanyak 5-6 model. Satu model biasanya terlebih dahulu diproduksi sekitar 150 pasang. Desain yang dibuat tersebut idenya terinspirasi dari majalah fashion.

Peralatan yang dibutuhkan dalam usaha ini antara lain mesin jahit dan handy tools (alat-alat tukang). Bahan baku berupa aneka jenis denim, kanvas/tekstil, lem, beberapa stok untuk kulit sepatu, benang, tali, outsole, dan insole. Semua ini dibeli dari agen-agen kain atau dari pasar tekstil Cigondewah, sedangkan untuk kulit sepatu, benang, tali, outsole, dan insole. Semua ini dibeli di agen agen kain atau dari pasar tekstil Cigondewah, sedangkan untuk kulit dari daerah Cibaduyut, Bandung dan Mangga dua, Jakarta Barat. Dalam sebulan Qiat dapat belanja 3-4 kali dengan biaya sebesar Rp 5 juta untuk bahan. Satu kilogram bahan denim biasanya dibuat menjadi 3-4 pasang sepatu.

Dalam satu hari kurang lebih 10 pasang sepatu dapat diproduksi oleh Qiat Footmate. “ Sejauh ini produksi masih di bawah permintaan dan cara menyiasatinya mau tidak mau harus mengembangkan workshop? Unit produksi,” jelas Qiat menggunakan pengrajin yang direkrut dengan sistem bagi hasil 30% dari harga jual pengrajin terdiri atas lima orang yang sudah terampil memebuat sepatu direkrut dari sekitar lokasi workshop.

Hifdhiy mengaku diawal usaha, produknya dipasarkan melalui pameran dan internet/sosial media dengan menyasar kelas menengah atas usia 18-30 tahun. Qiat Footmate juga sudah merambah ke mal di Jakarta misalnya mal MOI Kelapa Gading Jakarta Utara dengan syarat memenuhi omset per bulan yang ditargetkan pihak mal, kriteria produk lokal dengan kualitas A dan tidak meniru produk lain sejenis. Tak hanya itu, Qiat membuka booth dengan bagi hasil dan fee tahunan 30-40% untuk mal dan dibayarkan setiap bulan tergantung mal masing-masing.

Qiat Footmate juga menawarkan sistem keagenan. Calon agen diwajibkan membeli produk awal dengan jumlah tertentu, yaitu 15 pasang atau dengan menyertakan brifieng sederhana tentang pemasaran yang dikuasai. Setelah menjadi agen/reseller diberikan diskon 10-30% tergantung kuantitas pengambilan.

Cara pemesanan bisa melalui online dan by phone. Sebelum barang dikirim, pemesan diwajibkan membayar DP 50% namun untuk rekanan lama, pembayaran dilakukan dengan sisitem tempo satu bulan.

Produksi dikemas menggunakan kardus yang bisa didaur ulang, selain itu boleh retur sampai batas waktu satu minggu.

Dalam sebulan Qiat Footmate dapat menjual minimal 50 pasang sepatu hingga omset yang diperoleh bisa sampai Rp 30 juta dan keuntungan sekitar 40%. Biasanya akan terjadi peningkatan permintaan sepatu 300% saat akhir tahun dan masa- masa launching musim fashion terbaru. Usaha Qiat Footmate balik modal setela satu tahun berjalan. “ Investasi sampai saat ini hanya berupa mesin-mesin saja untuk fixed asset, sisanya untuk pembelian bahan baku,” ungkap Hifdhiy yang memiliki obsesi ke depan ingin menembus pasar ekspor dan bisa menjadi brand global, menggunakan material yang mudah didaur ulang, dan membuat brand fashion yang ramah lingkungan.

Menurut Hifdhiy mengomunikasikan kelebihan produk sepatu berbahan limbah kepada konsumen memiliki kendala tersendiri. Untuk itu cara mengatasinya dengan memberikan tampilan produk sepatu yang menarik kepada konsumen. Jika ada produk kiat yang kurang laku atau lama perputarannya, maka Hifdhiy akan memberikan diskon pada produk tersebut .” Kesulitan utama dalam bisnis ini adalah SDM dan bahan baku yang pasokannya tidak stabil. Jika harga bahan baku naik selama masih dalam kewajaran ya terpaksa mengurangi margin profit,” tambah Hifdhiy.

The post Produksi Sepatu Boots dari Perca Denim appeared first on infoloka.com.

Original Article

Apakah anda seorang pengusaha property, developer, enterpreneur, ataupun seseorang yang ingin mempresentasikan bangunannya melalui sentuhan gambar untuk media promosinya? Kini hadir ODIESIGN video animasi properti, yang mengkhususkan pembuatan video animasi untuk para pengusaha properti (DEVELOPER). >> Info Lebih Lanjut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here